Friday, November 20, 2009

rapat dan kursi putar

Tadi pagi rapat membahas website Pendis dan masing-masing direktorat di bawahnya. Sebenarnya dah agak males dan ada niat untuk ga datang karena website direktorat aja belum gw sentuh-sentuh sampe sekarang. Hehehe. Faktor malas dan kerjaan lain yang numpuk membuat gw sedikit melupakannya. Tapi berhubung ditelpon langsung sama Kasubbag Data dan Informasi -nya, mau ga mau gw datang kesana. Then.. Malulah gw disana. Ditanya-tanya apa kendalanya. Kendalanya sih ya itu. Websitenya belom jadi. Hihihi. Untung direktorat lain juga sami mawon, alias beritanya ga up to date. Jadi yang malu bukan cuma gw aja.
Dan selama rapat itu gw perhatiin, satu-satunya orang yang hobby memutar-mutar kursi cuma gw sendiri. Yang lain pada duduk manis diam mengikuti rapat, sementara gw memutar-mutar kursi sambil sesekali sms-an *yang ini tidak patut ditiru*. Hahahaha.
Yah, intinya sih perlu kerja extra untuk membereskan hal yang satu ini.

Read more...

Tuesday, November 17, 2009

ganti nama

Again..
Kedodolan yang lain. Bukan gw tapi orang lain.
Ceritanya, nama gw diganti dengan semena-mena *lebay*.
Kesalahan nama ini bermula pada saat Kakak gw meminta tolong untuk mentransfer uang di Bank Mandiri. Ya jelaslah gw menulis nama Siwi di bagian pengirim. Kejadian mentransfer atas nama Siwi ini cukup sering, dan inilah yang menyebabkan gw dipanggil dengan nama Siwi oleh Teller sampai Customer Service-nya. Bwahhh..
Herannya pada saat gw mentransfer atas nama gw sendiri, si mbak Teller yang cantik itu ga heran. Padahal gw menulis nama pengirim dengan Asti bukan dengan Siwi. Huhuhu..
Dan puncaknya pagi tadi. Niat hati mo bayar tagihan Speedy yang dah mepet tenggat waktu. Masuk langsung ke Teller. Dan apa yang dia katakan sodara-sodara???
"Selamat pagi mba Siwi.. Ada yang bisa dibantu?"
Ngek ngoookkk..
Gw ga sampai hati untuk mengatakan klo dia salah orang dan salah sebut nama. Tampangnya terlalu cute. Hehehe. Tapi gw juga ga bisa dipanggil dengan nama orang, eventhough she is my sister. Jadi, apa yang harus gw lakukan? *garuk-garuk kepala*. Klarifikasi atau membiarkan saja gw dipanggil dengan nama Siwi?

Read more...

Friday, November 13, 2009

bersyukur

Pagi ini..
Berjalan di bawah rindangnya pepohonan. Cuaca yang mendung-mendung tipis. Hawa yang sejuk karena semalam Jakarta disiram hujan. Bau tanah yang khas tersiram air hujan. Radio memutarkan Dancing Queen-nya ABBA. Senyum-senyum ga jelas.
Thanks God for this beautiful morning.

Yah, walaupun berangkat kerja dengan ogah-ogahan karena harus naik bis. Walaupun otak ini mumet karena harus belajar, belajar dan belajar. Walaupun gw lagi merasa bodoh bin bego banget. Walaupun kadang-kadang merasa pesimis dan ga yakin bisa. Walaupun niat hati mo begadang, apa daya gravitasi bantal dan guling terlalu kuat. Walaupun koneksi wireless di kantor putus nyambung kya lagu BBB *berasa pengen getok kepala orang*. Walaupun kemarin cuma sebentar ketemu si H. Walaupun chat ma H kemarin juga cuma basa besong. OK, yang ini ga ada hubungannya.

Gw bersyukur..
Bersyukur pagi ini masih diberi nafas untuk hidup. Bersyukur pagi ini masih bisa sarapan walaupun hanya dengan telor dadar karena nyokap lagi pergi. Bersyukur masih diberi kesehatan. Bersyukur masih bisa tertawa. Bersyukur masih bisa posting ini sambil nyanyi-nyanyi ga jelas. And last but not least, gw bersyukur masih dikelilingi orang-orang yang sayang ma gw.

Alhamdulillah untuk semuanya...
So which of the favors of your Lord would you deny? (Ar Rahmaan : 25)

Read more...

Tuesday, November 10, 2009

salah lagi

Untuk kesekian kalinya lagi, gw salah mengenali orang. Bukan di Facebook lagi, tapi di kehidupan nyata. Entah ada apa dengan otak ini. Mungkin dah sedikit berkarat dan perlu dipoles ulang.

Jadi, begini ceritanya..
Setiap upacara gw ketemu sama satu orang. Sebutlah namanya X. Kantornya ada di Cipete, jadi kita ketemu cuma klo pas ada moment-moment tertentu yang mewajibkan seluruh abdi negara ini berkumpul di Lap. Banteng. Salah satunya ya upacara hari-hari besar.
Contohnya pagi tadi. Kita ketemu dan ritual pun dimulai. Saling nyapa, senyum-senyuman, salaman, cipika cipiki dan ngobrol basa basi. Saat itu, otak gw berpikir klo X itu merupakan Y -- si teman satu kantor, bukan teman prajab gw dan sama sekali tidak terbersit klo sebenarnya yang teman prajab adalah si X. Yeah.. Bodohnya diri ini.

Percakapan basa basi dimulai *situasi di pinggir lapangan*.
A: Heiiii... *senyum manis*
X: Heiiii.. *senyum juga sambil mengulurkan tangan*
Dan kita pun bersalam-salaman sambil cipika cipiki
A: Kok ketemunya setiap upacara aja ya? *berpikir klo dia si Y dan bertanya-tanya kenapa jarang ketemu dia walaupun satu gedung*
X: Ya iyalah.. Klo ga ada upacara ya kita ga bakal ketemu *sambil ketawa*
A: Oh iya ya.. *masih ga mudeng*

Basa basi berakhir dan gw balik ke atas *masih belum sadar* dan kembali bekerja.
Baru sadar siang tadi. Pas gw sedang bertanya-tanya kenapa dari sekian banyak orang yang gw temui pas upacara tadi, kok ya ga ketemu si H.
Tring *bunyi lampu di otak gw*
Oh la la.. Ternyata si A ini adalah teman prajab dan bukan teman yang sama-sama berkantor di Lap. Banteng. Bwahahahahaha...

Upacara tanggal 28 Oktober pun begitu.
Situasi : Ketemu ga sengaja di pinggir lapangan.
X: Apa kabaar?
A: Baik. *senyum manis*
Sambil bersalam-salaman dan cipika cipiki
X: Ih Astie,, makin imut ajaa.. *bukan bermaksud narsis, tapi memang itu yang dia katakan*
A: Hehehe.. Iya donk.. Astie gitu lhoo.. *senyum ga jelas*
Pembicaraan selanjutnya gw lupa, dan saat itu gw masih berpikir klo si X adalah Y. Is it nice?

Great job, Astie.. Masih untung gw ga panggil namanya. Apa jadinya klo gw panggil dia Y, padahal namanya X? Dan sekarang masih bertanya-tanya siapa sebenarnya nama si X itu? Gw lupaaaaa.. *garuk-garuk kepala*

Dodol.. Dodolipet...

Read more...

Kisah Cinta Ali dan Fatimah

Dapet dari milis.. Err, tepatnya dari Pipit.
Klo di facebook "like this".

Belajar dari cintanya Ali dan Fatimah...

Kalau Cinta Berawal dan Berakhir Karena Allah, Maka Cinta yang Lain Hanya Upaya Menunjukkan Cinta Padanya, Pengejawantahan Ibadah Hati yang Paling Hakiki: Selamanya Memberi yang Bisa Kita Berikan, Selamanya Membahagiakan Orang-Orang yang Kita Cintai. -M. ANIS MATTA-

Ada rahasia terdalam di hati, Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibnu Abdullah Sang Terpercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka'bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

'Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakar Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu. ”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakar berda'wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; Utsman, Abdurrahman ibn Auf, Thalhah, Zubair, Saad ibn Abi Waqqash, Mushab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, Abdullah ibn Masud.. Dan siapa budak yang dibebaskan Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakar ditolak. Dan Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakar mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakar dan Umar, aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana Umar melakukannya. Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi

Karena tak menemukan beliau Shallallaahu Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka'bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang Umar di balik bukit ini!” Umar adalah lelaki pemberani. Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. Umar jauh lebih layak. Dan Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan

Maka Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul Ash ibn Rabi kah?, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya Abdurrahman ibn Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Saad ibn Muadz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Saad ibn Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..” ”Aku?”, tanyanya tak yakin. ”Ya. Engkau wahai saudaraku!” ”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?” ”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!” Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan. ”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?” ”Entahlah..” ”Apa maksudmu?” ”Menurut kalian apakah Ahlan wa Sahlan berarti sebuah jawaban!” ”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa „Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”
Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.

Di jalan cinta para pejuang, kita belajar untuk bertanggung jawab
atas setiap perasaan kita..

Siapkah anda “melupakan” masa lalu, memupus keraguan tentang masa depan, dan memberikan yang terindah HARI INI untuk menaklukkan cinta, mengajaknya bergandeng mesra untuk beribadah padaNya..
NB : di-edit seperlunya.

Read more...

Thursday, November 05, 2009

pelajaran hari ini

Pelajaran tentang hidup bisa didapatkan di mana saja dan kapan saja. Tergantung bagaimana kita melihatnya dan kita hanya butuh kacamata dari sudut pandang yang lain.

Hari ini, gw dapat pelajaran yang berharga.
Ada seorang tunanetra ingin bertemu dengan pak Direktur. Dia jauh-jauh datang dari Lampung sendirian, dan ternyata dia adalah seorang guru SMPLB dan sedang menyusun tesis untuk S2-nya di IAIN Bandar Lampung. Salut sesalut-salutnya.. Membuat gw berpikir dan berpikir. Betapa seringnya gw lupa bersyukur kepada Allah SWT dan betapa seringnya gw merasa ga mampu. Padahal Allah sudah begitu banyak memberikan keni'matan untuk gw, dan padahal setiap orang itu mampu. Kalau orang lain bisa, maka gw pun harus bisa.
Yeaahhh.. Terimakasih untuk Bapak itu. Terimakasih untuk pelajaran yang diberikan.

Gw jadi bersemangat lagi dan gw tau gw PASTI BISA.. Dan tentunya harus lebih sering bersyukur. Memang benar kata Ibu, "Sekali-kali boleh melihat ke atas, tapi jangan terlalu sering. Tapi lihatlah ke bawah niscaya kita akan lebih banyak bersyukur."
Mungkin selama ini gw terlalu sering melihat ke atas.

Read more...

malas

Ahh,, bagaimana caranya menghilangkan rasa malas. Setiap sudah membulatkan tekad, meneguhkan hati dan berjanji kepada diri sendiri pasti gagal. Rasa malas terlalu besar mendominasi diri dan pikiran. Fiuuhhh... Padahal persiapan baru 10%, sedangkan waktu terus berjalan.

Read more...

Wednesday, October 21, 2009

berhenti sejenak

Untuk sementara ga tau mo nulis apa. Blank. Kosong. Gelap.
Jadi sepertinya gw perlu berhenti sejenak, ntah sampai kapan.

Read more...

Thursday, October 15, 2009

kapan nyusul?

A : Udah dapet undangan dari C?
B : Udah mba.. *senyum maksa sambil mikir pasti pertanyaan itu lagi*
A : Kapan nyusul?
B : Doain aja mba.. *senyum maksa banget sambil mikir tuh kan bener. Argh,, bosaaannn*

Dan suasana pun garing.. Krik krik krik..

Read more...

Our Blogger Templates | Design 2008

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP